Showing posts with label sajak. Show all posts
Showing posts with label sajak. Show all posts

Sunday, December 11, 2011

Lagak

Aku tahu ketika kamu melihatnya dan kamu tau ketika kamu melihatnya
Tidak banyak bicara, satu diantaranya memahami saling membalikan
pura pura tidak tau tapi pura pura tidak bertanya
ingin memulai suatu hal yang terkadang namun selalu, diurungkan. Ya itulah
Mengapa kita begini, kalau ditanya
jawabnya: adalah Saya menunggunya, 
satu nya berkata Saya menunggunya.
Sama dan sama, padahal keinginannya sama seperti misal,
ingin membeli sebuah barang yang sama namun buahnya hanya satu
lalu berpura berpura
Ayo, ajaknya. Tak urung satunya, tak mendengar. Berpura pura,
Padahal dalam hati sesar terkadang gembira
namun berlagak, lagak rupawan wajah dan kata
namun mata juga hati pun taku kunjung binar
Mengapa ada cerita ini? Karena akan selalu ada jawabnya. 
Semua pasti ada jawabnya. Bohong kalau tidak ada. 
Masih bersikeras tidak ada, lebih munafik
Semua ada jawabnya, semua ada penjelasannya. 
Tidak percaya? Kita lihat nanti
bagaimana dua orang ini bicara.

Kinanthi Husodo-

Tuesday, December 6, 2011

Dia

Dalam keheningan seorang wanita paruh baya bertanya kepada sang lelaki yang duduk di atas kursi beralaskan permadani bermata hijau berkilauan  "Hendak kemana kau?" Maka jawabnya hanya "Mau tau saja"
Sesak, sepenggal terdengar hembusan nafas wanita dengan rambut hampir seluruh berwarna tidak hitam, dengan jalan tertatih tidak tegap, dengan pinggul seolah ingin selalu berbaring
"Tak ingat kah kau dulu? Hendak kemana rupamu diberi jika kau tak peduli?"
lelaki itu berseri membela, "Karena ada Tuhan! Bukan karena siapa siapa!'


Malu kau malu, tiga puluh tahun lalu ingat rupawan di sebuah gubuk kecil beratapkan jerami kecoklatan, terdengar suara merdu mengemas kan menggelegar-kan, azan dikumandangkan, dan tampak bersih sunyi dia yang hadir di dunia. Ya, dia. Kemudian dikepitkan nya dan diberi minum dari nya, akan kah teringat masa itu ketika dia belum bisa menggertak, membantah, berteriak kasar. Kalau saja tak diberi, maka dia akan mati kelaparan, menerjang seperti gadis korek api di tengah salju tanpa nya semua, hampa. Sendang seperti rebana memecah kedamaian terapi, dia yang dulu dikandung lupa akan dirinya, yang mengandung selama sembilan bulan. 


Berapa dasawarsa dihabiskan untuk memperoleh kebahagian semu, disekolah kan,namun tak balik ketika sudah mendapat upah. Upah nya hanya untuk istri kaya nya, yang berfoya foya dan anak nya yang tak lain tak bukan menjadi cucu nya pun tak mengetahui dia siapa. Kalau saja bukan, dan kalau saja tidak pernah dia mengalami hal ini, tak pernah. Ditaruh nya dia di kamar pengap beralaskan jerami dengan ukuran empat kali empat, tidak ada apa apa selain kain, maksud hati tidak ada bahan kapuk di antaranya. Yah, begitu kenyataan.


Mereka lah terkadang juga, tak pernah menganggapnya. Lupa diri. Mungkin. Iya benar kata dia, tak pernah dia dapat makanan baru dari loyang atau panggangan dengan asap dan bau yang masih mengepul dan khas. Tidak pernah. Hanya sisa dari piring kotor. Kalau ditanya berapa lama, maka berpuluh tahun jawab dia. Ya, seakan, labu lupa karena laba nya. Hendaknya berperangai terpuji, tak kunjung kau dapat sesal keesokan hari. Dia yang selama ini bersama mu mengorbankan seluruhnya, namun mengapa dia kini bersama mu tak kunjung kau korbankan dia. Tanya siapa? tanyalah dirimu sendiri atas jawaban dia.


Kinanthi Husodo-

Monday, December 5, 2011

Aku penampung

Hari ini aku masih duduk di penampungan ini, di sekeliling ku mereka yang memakai baju berwarna gelap dan usang yang lupuk tak digantikan, dan mereka yang makan menghisap ibu jari nya sendiri, kuku nya berwarna hitam tanah, matanya berlukiskan hitam dengan kantung yang menghiasi. Air dan Air, mungkin orang bukan menyebutnya sebagai air namun perlahan sebuah harta tak ternilai, yakin untuk masa ini. Air dulu di kala nya melimpah ruah namun saat habis mereka hilang termakan uang para sang kuasa, ya dia yang ada di televisi dan koran. Aku memandang bodoh sudut sudut pematang, ya anggap lah itu bukan pematang. Lebih tepatnya, pertengahan antara gubuk dan sebuah genangan, ku anggap itu 'kubangan'. Hina sungguh, apa daya begini lah nasib sang penampung, yang tinggal di tempat penampungan.


Salah siapa, masih selalu dan akan tak terjawab di masa ku. Siapa yang berbuat di masa lalu, akan masih tak terjawab di masa kini. Wahai para penampung, wahai penampungan akan kah dirimu merindukan tempat tinggal nyaman damai di kala kubangan itu lah sebuah taman asri dengan daun daun berwarna hijau, klorofil berpadu bersama sinar matahari. Air berlimpah dianggap nya adalah hal yang biasa, kan terus teringat suara sapi di pematang, para petani menyerbak biji biji, alunan suara musik khas.


Bukan, kau tanya siapa, maka selalu bukan,
Mari kawan ingat lah, akan selalu ku ingatkan tentang kau, aku ini penampungan dalam sebuah tampungan. Aku adalah dia yang dulu, dia yang akan ada dalam bayang kubangan dan hilang di bawah hitam nya awan malam. Aku butuh bantuan mu. Katakan lah sayang, bukan katakan 'jangan' Aku tak perlu, dan aku tak butuh. Ungkapkan sayang dan jangan katakan 'tidak' kau palsu di mata pemasyarakatan. Ingat lah ingat, aku selalu mendoakan mu di penampungan ini. Untuk mu yang ada di sana, sadarlah!


Kinanthi Husodo-

Sunday, December 4, 2011

Bersyukur

Tak ada yang bisa kita ungkap kan selain rasa syukur. Kawan, ingat lah ketika hari itu
kau mengatakan ingin menemaniku dan kita melewati hari hari itu bersama, kau gengam tanganku
tak kunjung kau katakan tak kan turut larut membuat mata ku berkesah, kau kuat kan ku ketika saat aku lemah
mungkin asa datang dan kemudian hilang bila bersama mu
namun suatu masa, ketika lupa akan kau tentang semuanya
yang membuat itu tiada, tiada kasih dahulunya kasih, kau yang buat
makna terdalam setelah kita lalui dan rajut sebuah
namun selalu kau merusak nya. apa lah dayaku berdiam menunggu suatu ubahan yang pasti darimu
dimana kau tergolek disana lah dirimu dan sosok yang kucari kawan


Kawan, ingatlah
ingatlah kata ku, kau selalu di hati ini entah apa yang kau buat dan mengapa selalu kecewa
ku tunggu kau kawan


Jika aku boleh mengucap satu kata penuh keluh, aku akan mudah menemukan satu kata itu, tetapi apakah harus aku katakan, aku tak boleh mengeluh. Betapa beragam manusia-manusia ini, tak ada satu pun yang sama. Yang kutahu pasti Tuhan itu adil, sehingga siapa pun aku dan siapa pun kamu, harusnya kita selalu bersyukur.


Kinanthi Husodo-